Tampilkan postingan dengan label Aksara Sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksara Sunda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Februari 2020

Media Aksara Sunda

Papan Nama

Penerapan aksara Sunda pada papan nama termasuk salah satu cara yang paling efektif memperkenalkan aksara Sunda kepada masyarakat. Berbagai papan nama khususnya media pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah daerah.

Plang Selamat Datang

Plang Selamat Datang Kota Depok
Plang / papan nama Sekolah

Plang / papan nama SMKN 1 Pusakanagara - Kabupaten Subang

Plang/papan nama SDN 2 Siluman, Kota Tasikmalaya




Jumat, 31 Januari 2020

Tentang Aksara Sunda

Aksara Sunda Baku
Aksara Sunda Baku adalah aksara Sunda yang sudah mengalami standarisasi dari aksara Sunda Kuna, sejak ditetapkannya SK Gubernur Jawa Barat No. 343/SK 614 Dis PK/99 pada 16 Juni 1999. Pada tanggal 21 Oktober 1997 di Lokakarya Aksara Sunda Universitas Pajajaran. Dalam aksara Sunda Baku sudah mengalami penyederhanaan bentuk dan juga penambahan huruf untuk menulis kata-kata serapan bahasa asing dalam penulisan bahasa Sunda modern.

Aksara Ngalagena
Aksara Ngalagena adalah aksara dasar atau aksara induk, yang terdiri dari 18 huruf dasar untuk menulis bahasa Sunda dan 7 aksara tambahan yang digunakan untuk menulis kosa kata serapan bahasa asing. Sebagai sebuah aksara dengan sistem penulisan Abugida, maka setiap huruf konsonan aksara Sunda sudah mewakili satu suku kata konsonan dengan vokal a. 


Aksara Rarangken
Aksara Rarangken atau aksara Pangangge Sora adalah aksara yang berupa tanda diakritik digunakan bersama dengan aksara Ngalagena. Ada tiga kelompok aksara Rarangken berdasar letak penulisannya, yaitu Rarangken di atas huruf terdiri dari lima macam. Rarangken di bawah huruf terdiri atas tiga huruf, dan Rarangken sejajar dengan huruf terdiri atas lima huruf.

Rabu, 22 Januari 2020

Aksara Sunda

Aksara Sunda adalah sistem penulisan aksara tradisional untuk menuliskan bahasa Sunda, terutama di provinsi Jawa Barat dan Banten. Sejak abad XII masyarakat Sunda sudah mengenal aksara Sunda Kuna untuk menulis bahasa Sunda yang mereka pakai. Tapi sejak jaman kolonial datang, masyarakat Sunda dipaksa penguasa untuk meninggalkan aksara ini dan diperkenalkan aksara Latin sebagai gantinya. Keadaan berlangsung hingga masa kemerdekaan, umunya masyarakat Sunda sudah lupa dengan tradisi tulis aksara Sunda ini. 

Pada akhir abad XIX sampai pertengahan abad XX, para ahli berkebangsaan asing dan pribumi meneliti keberadaan prasasti-prasasti dan naskah-naskah beraksara Sunda Kuna. Pada akhir abad XIX mulai timbul kesadaran akan adanya sebuah aksara Sunda sebagai identitas masyarakat Sunda. Maka pada tahun 1996 oleh pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat ditetapkan Perda tentang pelestarian Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Sastra dan Aksara Sunda. Pada tanggal 16 Juni 1999 keluar Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat memutuskan terbentuknya Aksara Sunda Baku berdasarkan hasil Lokakarya Aksara Sunda yang diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran dan atas hasil Tim Pengkajian Aksara Sunda. Dan pada tahun 2003 ditetapkan Perda pengganti tentang Pemeliharaan Bahasa Sastra dan Aksara Daerah.
Saat ini Aksara Sunda Baku mulai disosialisasikan kepada masyarakat Jawa Barat, melalui bebagai event acara kebudayaan, penggunaan pada papan nama gedung pemerintah seperti kantor Dinas Pariwisata Daerah Kota Bandung. Begitu juga penggunaan nama-nama jalan di kota Bandung khususnya dan Jawa Barat umunya.